Pagi itu usai mandi dan sarapan seperti biasa saya langsung
lari ke ruang tamu dan mengacak-acak tumpukan koran, satu persatu saya
perhatikan tanggalnya, manakah edisi terbaru dari Pos Kota hari ini.
Maklum saja dirumah saya dulu suka tercampur-campur edisi korannya,
karena yang baca suka males ngelipet.
Saya bukan mau baca
berita harga beras naik atau Presiden meresmikan proyek klompencapir,
tau apa saya tentang semua itu? lah wong umur saya paling baru 5
tahunan. Yang saya cari dari Pos Kota setiap hari adalah Koran Doyok.
Sedikit
sekali yang saya ingat tentang hari-hari jaman kecil saya itu,
beruntung bahwa kegembiraan saya membaca Lembergar Pos Kota atau yang
lebih populer dengan sebutan koran Doyok ini masih terjaga rapih didalam
ingatan saya.
Saya masih ingat Bagaimana dengan asiknya
membaca satu persatu komik yang ada didalam Lembergar yang setiap
edisinya diselipkan di sela-sela halaman koran Pos Kota.
Ritual itulah yang menurut orangtua saya akhirnya membuat saya lancar membaca di usia saya yang ke 4 tahun.
Barangkali
hal itulah yang seakan membuat saya dengan Koran Doyok ini selalu punya
ikatan emosional, Ibu saya berulang-ulang dengan bangga dan sedikit
geli selalu bercerita "itu loh si Nandi, umur 4 tahun udah bisa baca
koran Doyok dia"
Rasa rasanya wajar kalau saya lancar
membaca karena Doyok, karena memang keluarga saya bertahun-tahun
berlanggana koran Pos Kota.
Entah siapa yang perama kali mengenalkan saya pada sosok Doyok ini dan bagaimana hingga akhirnya saya keranjingan membacanya
Bahkan,
saya masih ingat jelas bahwa pernah suatu waktu saya dirawat di Rumah
Sakit, waktu usia kurang lebih 6 tahun, dan masih lekat diingatan saya
bagaimana saya meminta dibawakan Lembergar Doyok itu setiap paginya : )
*******
Dia
mengenakan baju lurik khas Jawa dan tidak pernah copot blangkon,
celananya ngatung serta sesekali digambarkan mengenakan sendal jepit.
Gayanya
yang lugu, kocak serta spontan dalam menanggapi isu - isu update, baik
itu mengenai permasalahan sosial, budaya ataupun kejadian lainnya,
menjadikan Doyok sangat merakyat dan seakan-akan menjadi suara yang
mewakili suara masyarakat kebanyakan.
Gaya yang dibawakan
pun nyaris selalu sama, terbagi menjadi rata-rata lima frame. Di frame
pertama biasanya Doyok akan muncul dengan gayanya yang sok serius, pun
di frame ke-dua dan ke-tiga, Ia masih akan meracau mengenai sebuah
permasalahan, tetap dengan gayanya yang agak sok tahu.
Barulah
di frame ke empat biasanya muncul karakter-karakter lain yang menjadi
lawan bicaranya. Dan di frame terakhir akan ada komentar Final yang
diiringi dengan ke-kagetan ataupun ekspresi kocak dari tokoh-tokoh
pemeran.
Begitu simple nya si Doyok inilah barangkali yang
menjadikan jalan ceritanya mudah diikuti, Ia membawa masalah-masalah
yang bisa dibilang berat dengan gayanya yang santai danspontan serta
bahasa yang ringan.
********
Sekarang saya sudah
jarang, bahkan hampir tidak pernah membaca edisi cetak si DOyok, selain
karena sudah tidak ada yang berlangganan Pos Kota lagi, mungkin sekarang
bacaan atau sumber informasi saya sudah bergeser ke hal-hal yang
digital alias internet dan tetek bengeknya.
Sesekali saya masih menyempatkan ngintip Lembergar versi digital di website poskota, walaupun sudah sangat amat jarang
Namun,
setiap saya dengar ocehan Ibu saya mengenai bagaimana saya dengan
lancar bisa membaca "koran Doyok" di usia saya yang masih kecil itu,
ingatan saya langsung menuju ke masa-masa kecil tadi, mulai dari
situasi, gambar background lingkungan si Doyok yang selalu sama, gigi
nya yang nongol, hingga bau koran yang menyengat, seakan masih
tersimpan.
Selamat Jalan Pak Kelik "Doyok" Siswoyo, terima kasih atas kenangan visual yang indah di masa lalu yang terbawa hingga kini