Wednesday, 10 June 2009

Dangdut is The Music of Cirendeu County

Kamis 4 Juni 2009 perasaan saya mulai tidak enak ketika saya akan pulang dari kantor dan mendapati beberapa orang tetangga saya sdg ramai2 mendirikan tenda berukuran sedang dan merapihkan beberapa bangku-bangku, "waduh .. hajatan nih" begitulah kira-kira isi hati saya sore itu. pelan-pelan saya turunkan kaca mobil lalu menyapa pak Haji yg sepertinya menjadi Tuan Rumah dr hajatan tersebut "Salamualaikum Ji..waduh ada hajat ya Ji..", 'iye dek..dateng ya sabtu..' seperti itulah sapaan singkat kami sore itu. Dalam hati berfikir, wah aman deh..si Haji yg hajatan.

Tapi saya kembali nyengir-nyengir kecut waktu pagi ini, sabtu 06 Juni 09 saya melongok keluar rumah untuk sekedar melihat-lihat sekalian kalo ada bubur ayam. WAK WAW!!!..sebuah panggung berukuran lumanyun (lumayan) besar sudah membelakangi rumah saya. iya pembaca..membelakangi rumah saya dan salah satu sound tembak (sound besar) nya mengarah ke samping rumah. Yak ..itulah realitas kehidupan bertatangga disini, Toleransi yang memang harus dibayar mahal dgn mendengarkan hingar bingar musik dangdut berkekuatan besar dengan adrenaline ekstra tinggi yg akan dimulai (biasanya) pukul 13.00 dan berakhir pkl 02.00. Toleransi yg harus membuat saya memastikan anak saya tdk kaget-kagetan mendengar dentuman bass dan gendang atau teriakan biduan-biduan yg gemar sekali bertereak 'yaaaaaaaaaaaa...gimanaaaa
aaaa mau lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiii' dgn tereakan yg POLL. sambil sesekali ditengah-tengah lagu mendesah-desah "ahhh uhhh ahhh oohhh" tidak jelas. Atau si MC yg senang sekali menyampaikan "atensi" atau sekedar memanggil-manggil tokoh-tokoh (preman ) untuk naik ke panggung dan 'nyawer' sebanyak-banyaknya.

Mungkin sebagian teman-tean ada yang ketawa membaca deskripsi situasi diatas sambil mikir 'gile..si Nandi apal betul ama seluk beluk dangdut'. Yap, saya lumayan hapal dengan lika liku situasi musik Dangdut, karena selama 3 tahun saya tinggal di sini hampir setiap weekend (jumat,Sabtu) selalu terdengar sayup-sayup musik dangdut yg dibawa oleh angin masuk ke rumah saya dan tertangkap oleh telinga saya, kalau untuk di kampung saya sendiri setidaknya setiap musim kawin (kata orang) yaitu bulan Syawal, setelah lebaran Haji atau pertengahan tahun seperti saat ini selalu ada pagelaran Dangdut.

yang menyedihkan sebenarnya adalah kadang-kadang pagelaran ini diisi dengan aksi-aksi berlebihan dari biduan dangdut dgn gerakan-gerakan erotisnya, teriakan-teriakan 'jorok'nya, pakaian biduan nya yg membuat saya malu-malu kepingin melihat tapi malu tapi ingin tapi malu hehe..
Diatas itu semua yang menjadi keprihatinan saya adalah pagelaran yg menurut saya seharusnya dimasukan ke kategori BB 17+ ini disaksikan juga oleh anak-anak dan remaja tanggung yg seharusnya blum boleh menyaksikan ke'jorokan' tadi. Dan pagelaran ini juga dilakukan dekat dgn Masjid sehingga seakan ada ironis ketika melihat aksi mereka di panggung lalu kita melihat Masjid yg kita tahu bersama bahwa Islam sama sekali tdk setuju dgn hura-hura, mengumbar aurat dan minuman keras (yg satu ini wajib ada di dangdutan). Dan hampir seluruh warga disini, termasuk saya adalah Islam.

itulah Cirendeu tercinta, kampung saya yang membuat saya akan selalu ekstra hati-hati mengawasi perkembanga anak-anak saya nanti, Kampung sya tercinta yang selalu membut saya tertawa kecil di setiap akhir pekan, kampung saya yang mulai dipenuhi oleh TON HOS (town house), kampung saya yang sangat lantang menyuarakan Adzan, kampung saya yang mampu menjadikan Dangdut sebagai Tuan rumah di negerinya sendiri. Selamat menikmati Dangdutan teman-teman ..(seraya berfikir mengungsi kemana malam ini)



-cirendeu 07 06 09-

Monday, 1 June 2009

Nasionalisme..Ambalat, Manohara dan David Hartono

kurang lebih 1 minggu belakangan ini ada dua kata yang sangat sering saya dengar dan baca di media (kecuali urusan Politik dalam negeri), yaitu Manohara dan Ambalat, dan tentu saja kedua hal tadi tidak bisa dipisahkan dari dua negara yang (katanya) serumpun, yaitu Indonesia dan Malaysia. sebelum masuk lebih jauh ke masalah2 tadi saya harap oembaca (kalo ada) mampu objektif dlm menyikapi masalah2 yg akan saya bahas.. karena saya tidak terikata pada kepentingan apapun, tidak terbebani oleh lembaga mana pun, jadi semua murni pendapat saya sebagai seorang Nandi, jadi kalau ada kata2 atau kalimat dan pengertian yg salah ya anda boleh membenarkan

Manohara...
Manohara Odelia Pinot (mano) adalah model belia kelahiran Jakarta, 28 Februari 1992. Lahir dari seorang ibu keturunan bangsawan Bugis, Daisy Fajarina dan ayah berkebangsaan Perancis. Lalu bagaimana dgn status kewarganegaraan Mano? apakah dia WNI atau WNA? karena UU Kewarganegaraan kita mengatakan bahwa seorang anak yg lahir dr pasangan campuran akan menentukan kewarganegaraan nya pd saat ia berumur 18thn (Pasal 21ayat 3) dan sebelum usia 18thn anak tsb masih mempunyai kewarganegaraan ganda.
Tapi di pasal yg lain juga menyebutkan bahwa seorang WNI akan kehilangan kewarganegaraan nya saat ybs menikah dgn WNA.

"Perempuan Warga Negara Indonesia yang kawin dengan laki-laki warga negara asing kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia jika menurut hukum negara asal suaminya, kewarganegaraan istri mengikuti kewarganegaraan suami sebagai akibat perkawinan tersebut".(pasal 26 ayat 1)

kemudian ketika ternyata kabarnya Mano menikah dgn Fakhry pd tgl 26 Agustus 2008, timbul lagi pertanyaan baru saya.. berarti saat itu Mano berusia kurang lebih 16 thn, ini juga berarti bahwa disaat ia msh berkewarganegaraan ganda ia kehilanga pula kewarganegaraan nya... wah agak rumit, tapi sudahlah mari masalah tadi kita serahkan pada media dan para ahli ketatanegaraan utk membahasnya.

yg agak mengganggu sebenarnya adalah BLOW UP atau pemberitaan berlebihan ttg kasus manohara ini, yg konon katanya disiksa secara fisik, psikis dan seksual. tapi kasat mata, saya tidak melihat sama sekali ada bekas2 penyiksaan..yg saya lihat adalah dia berlari kegirangan, loncat2, ketawa ketiwi, maen HP dan tubuhnya terlihat bugar, jauh dr adanya kesan Trauma dan Ketakutan dan ancaman, padahal dari yg kita dengar bersama2 bhw mano menurut sang ibu disiksa habis2an oleh Fakhry, idealnya atau umumnya yg pasti terjadi adalah ketika kita telah mendapatkan "abusement" kita pasti akan merasakan trauma akan situasi tertentu apalagi menghadapi orang yg begitu banyak.

jadi, saya ingin media berimbang dalam hal pemberitaan. Tahukah anda 1 hari sebelum Manohara pulang ke Indonesia, kerabat dr Pembantu kakak saya di kampung meninggal di Arab Saudi karena diperlakukan tidak senonoh oleh majikan nya dan yang paling membuat saya gerah adalah bhw sampai saat ini Jenazah ybs belum dipulangkan!! lalu apa pantas kita membabibuta memberitakan mano yg sehat walafiat, gemuk, segar bugar dgn "eksklusif"sementara disisi lain setiap tahun ada saja WNI MATI di luar negeri tapi media hanya menanggapi dgn biasa2 saja. Apa mungkin karena ini menyangkut Malaysia makanya masalah ini menyulut emosi para teman2? saya berharap tdk demikian.

lalu bagaimana dgn DAVID HARTANTO WIDJAJA mahasiswa Indonesia yg mati di NTU Singapore.. investigasi dilapangan versi kepolisian singapore adalah david mati bunuh diri setelah berusaha membunuh profesor pembimbing skripsi nya, namun sejumlah kejanggalan muncul dan sejumlah analisa juga bermunculan bhw kalau kita gunakan pemikiran terbalik maka ada skenario bhw bisa saja si Prof lah yg berusaaha membunuh David krn merasa bhw hasil skripsi David dapat mengancam penemuan terakhir si Prof tsb. Tapi media hanya menjadikan berita ini sbg intermezo!! tidak ada ormas yg mengawal keluarga David seperti yg kita lihat pd hari kedatangan Mano, tidak ada respons! padahal sdh ada WNI yg MATI !!! (salut buat TV ONE yg masih mengangkat isu ini).

4 hr sebelumnya rasa nasionalis putra putri Indonesia kembali terbakar oleh ulah kapal perang Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM), yg melanggar wilayah perairan Indonesia beberapa waktu silam karena memasuki wilayah Ambalat, Kalimantan Timur,Indonesia.

lagi-lagi Indonesia (sebagian warga) melalui internet menunjukan sikap tidak berkelas dgn mengatakan PERANG SAJA, TEMBAK SAJA!! padahal prosedural PERANG tidak sedemikian gampangnya.
sebuah permasalahan yg melibatkan dua negara berdaulat harus terlebih dahulu dibawa ke International Court of Justice / Mahkamah Internasional (MI) untuk dibicarakan dan diambil sebuah keputusan akan permasalahan tsb, DAN ITULAH YG MEMANG DIINGINKAN OLEH MALAYSIA.. agar Indonesia Emosi membawa masalah Ambalat ke MI lalu KALAH di MI dan Ambalat menjadi milik Malaysia karena memang malaysia lebih apik dlm hal “Continuous presence, effective occupation, maintenance dan ecology preservation” yg menjadi acuan MI dalam menentukan sebuah putusan yg kurang lebih mengacu kpd pemeliharaan dan jarak pulau.

Hal ini telah terjadi pada kasus SIPADAN LIGITAN (bekas pulau indonesia yg kini milik Malaysia). kita kalah pd wkt itu krn dr sisi pemeliharaan pulau dan jarak pulau Sipadan ligitan lebih dekat ke Malaysia dan mereka (malaysia) telah membangun sarana pariwisata dan mercu suar disana. Belajarlah dr hal ini jgn lagi kita mengalami nasib yg sama!

kalau sdh seperti ini permasalahan bukan lg ada pada Orang lain atau negara lain, permasalahan ada di diri kita dan negara ini sendiri, saya umpamakan seperti ini : ada anak kecil yg membiarkan mainan lama nya terbengkalai, lalu setelah mainan itu di ambil dibersihkan dan dirawat oleh anak lain, si anak pertama td teriak2 mengakui bhw itu adalah mainan dia!

Terakhir, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk belajar menyikapi sebuah masalah, kejadian, fenomena atau apapun yg menyangkut khalayak umum dan kenegaraan dgn cara "berfikir diluar kotak", dan tidak semata2 mempercayai berita di media dgn satu arah saja. kita tidak mau kan apabila sudah teriak2 perang tapi malah nanti kelihatan belang nya bahwa kita tdk bisa mengurus "rumah" kita sendiri.
atau kita mati2an membela orang (katanya) Indonesia tapi lebih senang berbicara menggunakan bahasa Inggris. ^_^